"Belajarlah terus, karena bisa saja ilmu yang kita miliki sudah kadaluarsa atau bahkan salah. Belajarlah sampai akhir hayat."

Selasa, 10 Agustus 2010

Ramadan dan Rutinitas Latah

Bulan Ramadan sudah di depan mata. Dan beberapa hari lagi umat muslim di Indonesia akan menjalani puasa Ramadan. Puasa yang merupakan sebuah kewajiban dan hanya bisa ditinggalkan jika ada uzur tertentu. Dan jika meninggalkannya pun harus mengganti sesuai dengan aturannya.

Namun saya tak akan membahas tentang nash-nash yang berkaitan dengan apa dan bagaimana puasa Ramadan. Namun saya lebih tertarik menggarisbawahi bagaimana perilaku dan tingkah laku umat muslim dalam menghadapinya, yang cenderung memandang puasa sebagi rutinitas belaka. Rutinitas latah layaknya memperingati hari-hari besar lainnya. Setelah selesai maka tak akan berbekas apa pun.

Masjid-masjid yang biasanya sepi kembali ramai. Jika di luar bulan Ramadan, jemaah yang ikut salat berjemaah hanya sekitar satu hingga dua shaf (baris) saja, maka di bulan puasa menjadi berlipat sampai puluhan shaf. Bahkan tak jarang terjadi overload kapasitas masjid. Alhasil, takmir masjid sampai harus memasang tenda, agar semua jemaah bisa ikut salat tarawih berjemaah.

Seakan menjadi hal yang luar biasa ketika melihat masyarakat berbondong-bondong mendatangi masjid untuk salat Isya dan tarawih. Saya mengatakan dengan spesifik, khusus mengenai dua salat tersebut. Pasalnya kondisi sedikit berlawanan ketika waktu salat yang lainnya datang, walau saat salat subuh jemaah juga memenuhi space masjid. Dan pertanyaannya adalah, di mana para jemaah saat waktu salat zuhur dan asar? Apakah derajat pahala yang diterima untuk salat keduanya lebih rendah?

Kiranya pertanyaan tak perlu dijawab, karena pastinya semua umat muslim tahu jawabannya. Lantas bagaimana jika kita membandingkan dengan ibadah salat umat muslim di luar bulan puasa? Apakah kita juga bisa mendatangi masjid layaknya di bulan puasa? Sekali lagi saya tak akan menjawabnya. Namun hendaknya kita mengamati kondisi sekitar kita. Di luar bulan puasa kondisi masjid kembali sepi. Padahal di luar bulan puasa ada bulan-bulan lain yang jumlahnya 11 kali lipat.

Mungkin sudah menjadi sebuah kesalahan yang jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, jika mendatangi salat tarawih berjemaah seakan-akan wajib. Sedangkan salat wajib yang seharusnya dilaksanakan di masjid (bagi kaum laki-laki) justru dipandang ringan dan bisa dilaksanakan di rumah. Padahal yang dicontohkan Rasulullah justru sebaliknya.

Rutinitas latah tak hanya berhenti sampai di situ. Seakan sudah menjadi pakem di bulan Ramadan jika para dai, ulama dan ustazah akan banjir orderan. Mereka harus benar-benar membagi waktu lantaran mungkin saja tak hanya satu tempat yang harus diberikan tausiah (ceramah) dalam satu hari. Maka tak ayal, otak-otak orang Islam seakan dijejali dengan ilmu-ilmu agama yang sangat padat dalam satu bulan. Walau sebelumnya, ritual padusan yang seakan dianggap bagian dari ibadah juga telah dijalankan oleh mayoritas muslim Indonesia.

Sementara itu, bulan puasa bagi tempat-tempat hiburan layaknya sebuah pagebluk. Di bulan yang bernilai itu, jam buka tempat-tempat hiburan dibatasi pada jam-jam tertentu saja. Mudah ditebak, segi pendapatan yang tiap bulannya mencapai ratusan juta turun drastis.

Untuk menyiasatinya, ada juga tempat hiburan yang memaksimalkan masa sebelum datangnya bulan Ramadan untuk menggelar hiburan secara nonstop. Acungan jempol untuk ide kapitalisnya. Namun jika dipandang dari esensi bulan puasa sebagai ibadah, maka hal itu terbilang lucu. Seakan-akan memaksimalkan berbuat maksiat sebelum dilarang oleh aturan pemerintah.

Di sisi lain, menjelang bulan puasa barangkali adalah bulan yang sibuk bagi aparat kepolisian atau personel Satpol PP. Mereka disibukkan dengan agenda menutup tempat hiburan yang berbau maksiat. Mereka juga akan mengawasi jam buka kafe-kafe yang biasanya dijadikan nongkrong orang-orang berduit itu.

Tak berhenti sebatas itu. Aparat keamanan juga harus melakukan razia-razia di beberapa tempat yang dicurigai sebagai tempat maksiat. Bahkan beberapa hari lalu di Sumatra juga dilakukan penggusuran bangunan yang ditengarai digunakan sebagai wahana bisnis esek-esek. Pasangan mesum yang tertangkap pun segera digelandang aparat. Dan hal seperti ini tak hanya sekali atau dua kali dilakukan oleh pemerintah, namun hampir setiap saat menjelang bulan Ramadan.

Sayangnya, rutinitas penertiban tersebut terkesan hanya di bulan Ramadan. Padahal pada hakikatnya, baik pemerintah maupun agama Islam sama-sama melarangnya. Dan yang jadi pertanyaan adalah, di mana para aparat dan apa saja yang dikerjakan di luar bulan Ramadan? Apakah hanya bulan puasa saja kemaksiatan dilarang?

Di luar itu semua, acungan jempol bagi semua rutinitas yang telah dilakuan oleh masyarakat Indonesia dalam menyongsong bulan puasa . Semangat untuk menunaikan ibadah bulan puasa sangat tinggi. Mulai dari rutinitas padusan, meramaikan masjid, membangunkan orang saat makan sahur, hingga saling memberi maaf serta “fitrah” saat lebaran tiba.

Namun sayangnya semangat tersebut terhitung belum diimbangi dengan esensi tingkah laku di luar bulan puasa. Saat di bulan puasa, manusia ingat berbohong itu dosa, ingat mengurangi takaran juga dosa, korupsi dosa, berkata kasar dan merendahkan orang lain juga dianggap tabu. Namun sayangnya di 11 bulan lainnya, hal tersebut seakan tak terlihat.

Banyak sesama muslim saling bunuh lantaran sepetak tanah, saling bunuh lantaran perempuan, saling bunuh lantaran jabatan. Atau setidaknya mereka telah dianggap agama sebagai orang yang kanibal. Saya mengatakan kanibal, lantaran dalam agama Islam telah menerangkan, bahwa bagi siapa yang menggunjing sama saja dengan memakan bangkai saudaranya tersebut. Dan, di negara kita banyak hidup orang yang kanibal.

Namun demikian saya tetap berharap pada semua umat muslim di Indonesia untuk tetap bersemangat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan kemampuannya. Mencoba melakukan yang terbaik. Semoga momentum Ramadan ini bisa sedikit meredakan kemaksiatan yang berulang kali ditayangkan oleh media televisi. Semoga dengan Ramadan ini bisa mengembalikan kita semua pada kesucian, selayaknya saat terlahir ke dunia.

Dan pada akhirnya, Ramadan bukan hanya dipandang sebagai ibadah rutinitas yang diikuti dengan kelatahan. Namun bisa kita jadikan bulan yang memang di dalamnya kita merenungi segala kesalahan dan beribadah sebanyak-banyaknya dan seikhlas-ikhlasnya. Kemudian bisa mengikis budaya latah yang telah menahun.


Sumber: Harian Joglosemar Online

0 komentar:

Pengin cari artikel lainnya...?!?