"Belajarlah terus, karena bisa saja ilmu yang kita miliki sudah kadaluarsa atau bahkan salah. Belajarlah sampai akhir hayat."
Tampilkan postingan dengan label Seputar Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2011

100 santri tahanan penghafal Al Qur’an di wisuda Menhumkan

Solo (Soloraya Online) – 100 santriwan dan santriwati PPPA (Pondok pesantren Penghafal Al Qur’an) Rutan Solo di wisuda Menhumkam ”Saya bangga dan terharu teryata rumah tahanan ini dapat hidayah AlQur’an, banyak tahanan yang sekarang malah jadi santri-santri yang hebat, saya malah belum pernah di wisuda sebagai penghafal Al- Qur’an lho,” Ujar Patrialis Akbar, Menhumkam ( Menteri Hukum dan HAM) menyambut wisuda PPPA Rutan Solo Gladak.Sabtu (8/8)

Menhunkam berharap dengan di wisuda ini, para santriwan dan santriwati Rutan Solo ini selepas keluar dari tahanan ini akan menjadi suri teladan yang baik bagi masyarakat, apalagi para santri Rutan sudah di wisuda, harus benar-benar menjaga nama baik.

”Lebih –lebih semangat mencintai Al- Qur’an, tidak hanya menghafal tetapi juga harus mampu diamalkan sehari-hari,” kata Patrialis Akbar.

Minggu, 22 Mei 2011

Lebih Baik Pendidikan “Berkarakter” daripada P4

Menanggapi adanya rencana sebagian rektor yang akan memasukan kembali pelajaran Pendoman Pendidikan dan Pengamalan Pancasila (P4) dalam meminimalisir tindakan “terorisme” dan “radikalisme” di kampus, Kasubdit Pengembangan Akademik Dirjen Pendidikan Tinggi Islam pada Kementerian Agama, Dr Muhammad Zain berpendapat justru lebih baik di terapkan “pendidikan berkarakter” saja.

“P4 itu mempunyai sejarah tersendiri dan kalau dibuat “proyek” malah hasilnya kurang bagus juga,” ujar Zain kepada hidayatullah.com di sela acara diskusi pendidikan bertajuk,”Membangun Insan Kamil dan Penanggulangan Paham Radikalisme” di kampus Universitas Islam Bandung, kemarin.

Pendidikan berkarakter sendiri menurut Zain adalah dengan menampilkan figur teladan tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia sehingga mahasiswa atau peserta didik mempunyai inspirasi watak mulia sang tokoh.

Proses Terbentuknya Karakter Anak

Proses Pembentukan Karakter

Tindakan dan perilaku anak Anda saat ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba terbentuk atau ’given’ dari Yang Maha Kuasa. Ada sebuah proses yang cukup panjang sebelumnya yang kemudia sikap dan perilaku itu lekat pada dirinya. Bahkan, sedikit banyak karakter anak sudah mulai terbentuk sejak dia masih berujud janin dalam kandungan.

Saat anak dalam kandungan, sedikit demi sedikit sikap dasar itu mulai terbentuk. Seperti yang kita yakini, bahwa anak dalam kandungan, begitu Allah meniupkan ruh kepadanya, sudah mampu bereaksi terhadap segenap respon yang berasal dari internal mapun eksternal. Dari internal maksudnya, bayi dalam kandungan sangat beraksi terhadap emosi yang dialami oleh ibunya saat itu. Emosi apapun yang dialami oleh ibunya, maka janin pada waktu itu bereaksi dan belajar. Entah emosi itu positif maupun negatif, maka sedikit banyak akan berpengaruh terhadap sifat bayi dikemudian hari.

Misalnya saja, ketika waktu mengandung ibunya emosinya tidak stabil, tertekan, dan sering gelisah, maka kemungkinan besar anaknya nanti juga menjadi anak yang tidak tenang, rewel dan susah dikendalikan emosinya. Sebaliknya, jika sewktu mengandung emosi ib stabil, nyaman dan bahagia, maka bayinya nanti cenderung menjadi anak yang ceria dan mudah dikendalikan.

Selasa, 26 April 2011

Revitalisasi Pendidikan Agama

Eskalasi penyegelan, penutupan, penyerangan, dan pemberangusan tempat ibadah yang terjadi sepanjang 2010 pada hakikatnya merupakan representasi sikap keberagamaan yang tribal.
Betapa bahayanya aksi itu, saat suatu kelompok secara leluasa ber-”kamikaze” menyerang kelompok lain yang dianggap berseberangan pemahaman agama. Akhirnya, substansi agama yang sejuk menjelma dalam paras yang kasar dan menakutkan. Wajar jika Moderate Muslim Society menilai tahun 2010 sebagai tahun kelam kebebasan beragama di Indonesia.

Dapatkah sektor pendidikan, khususnya pendidikan agama, memberikan sumbangsih dalam membangun kehidupan masyarakat yang humanis dan berwawasan multikultural?

Membangun toleransi dan kesepahaman antarsesama memang selayaknya ditanamkan sejak dini lewat jalur pendidikan. Apalagi sekolah menjadi jenjang peralihan dari keluarga ke masyarakat. Ketersediaan kurikulum pendidikan agama yang menekankan nilai-nilai luhur keagamaan sebagai software dalam berinteraksi membuat anak didik lebih siap menghadapi kehidupan yang plural.

Ujian Pendidikan Agama "Menyesatkan"

Tokoh-tokoh agama di Yogyakarta meminta agar rencana pemerintah untuk menyelenggarakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional Pendidikan Agama Islam (USBN PAI) ditinjau ulang. Ujian seperti itu menyesatkan karena pendidikan agama diarahkan menjadi sekadar hafalan, bukan amalan atau perilaku.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Bidang Pendidikan Tasman Hamami mengemukakan hal itu di sela-sela lokakarya bertema "Kontroversi Kebijakan USBN PAI" di Aula Kantor PWM, Yogyakarta, Selasa (15/3/2011). Kegiatan itu dihadiri pula Sekretaris Komisi HAK Konferensi Waligereja Indonesia, Benny Susetyo Pr.

Adapun kegiatan itu terkait dengan rencana Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama menguji coba USBN PAI 2011 di 140 kabupaten dan kota di Indonesia. Pada 2010, ujian itu telah diuji coba di 40 kabupaten dan kota di Indonesia.

Mendiknas: Toleransi akan dimasukkan dalam materi pendidikan

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh menyatakan bahwa masalah toleransi akan dimasukkan dalam materi pendidikan di Indonesia guna menyikapi isu radikalisme yang kini berkembang pada generasi muda.

“Pendidikan memiliki kesempatan yang besar dalam mengembangkan rasa toleransi untuk mencegah isu radikalisme, sehingga kami akan mengembangkan konsep tersebut dalam pendidikan sekolah,” katanya di sela-sela melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ujian nasional (UN) di sejumlah sekolah menengah pertama di Kota Yogyakarta, Senin (25/4/2011).

Menurut dia, tanggung jawab untuk melindungi generasi muda dari pengaruh buruk isu radikalisme tidak hanya menjadi kewajiban bagi institusi pendidikan saja, tetapi juga masyarakat.

Namun demikian, lanjut Mendiknas, tidak dipungkiri jika pendidikan menjadi garda depan dalam membentuk karakter generasi muda untuk mewujudkan toleransi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selasa, 05 April 2011

Memperhatikan Anak Sebelum Lahir

Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasihat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda: "Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang datang melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak.

Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda: "Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacayaterjadi fitnah di muka bumi dan kerosakan yang besar"

Tips Agar Anak Anda Tak Kecanduan TV

Selain belajar, makan atau melakukan aktivitas lainnya, anak-anak kerap menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Para orangtua pun kerap membiarkan anak-anak mereka menonton televisi sesuka hati. Padahal sudah banyak penelitian yang menjelaskan efek negatif dari terlalu banyak nonton televisi pada masa anak-anak.

Jika anak sudah terlalu kecanduan menonton televisi, bisa menyebabkan beberapa hal kurang baik seperti kegemukan, agresif dan sulit tidur. Lantas bagaimana caranya agar anak tak lagi hobi nonton televisi? Berikut ini tipsnya seperti dikutip dari ehow:

1. Buatlah aturan waktu untuk menikmati televisi, seperti tidak menyalakan televisi kartun pada pagi hari, karena akan mempengaruhi aktivitas hari Anda dan si kecil.

Pengin cari artikel lainnya...?!?