Menanggapi adanya rencana sebagian rektor yang akan memasukan kembali pelajaran Pendoman Pendidikan dan Pengamalan Pancasila (P4) dalam meminimalisir tindakan “terorisme” dan “radikalisme” di kampus, Kasubdit Pengembangan Akademik Dirjen Pendidikan Tinggi Islam pada Kementerian Agama, Dr Muhammad Zain berpendapat justru lebih baik di terapkan “pendidikan berkarakter” saja.
“P4 itu mempunyai sejarah tersendiri dan kalau dibuat “proyek” malah hasilnya kurang bagus juga,” ujar Zain kepada hidayatullah.com di sela acara diskusi pendidikan bertajuk,”Membangun Insan Kamil dan Penanggulangan Paham Radikalisme” di kampus Universitas Islam Bandung, kemarin.
Pendidikan berkarakter sendiri menurut Zain adalah dengan menampilkan figur teladan tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia sehingga mahasiswa atau peserta didik mempunyai inspirasi watak mulia sang tokoh.
Eskalasi penyegelan, penutupan, penyerangan, dan pemberangusan tempat ibadah yang terjadi sepanjang 2010 pada hakikatnya merupakan representasi sikap keberagamaan yang tribal.
Betapa bahayanya aksi itu, saat suatu kelompok secara leluasa ber-”kamikaze” menyerang kelompok lain yang dianggap berseberangan pemahaman agama. Akhirnya, substansi agama yang sejuk menjelma dalam paras yang kasar dan menakutkan. Wajar jika Moderate Muslim Society menilai tahun 2010 sebagai tahun kelam kebebasan beragama di Indonesia.
Dapatkah sektor pendidikan, khususnya pendidikan agama, memberikan sumbangsih dalam membangun kehidupan masyarakat yang humanis dan berwawasan multikultural?
Membangun toleransi dan kesepahaman antarsesama memang selayaknya ditanamkan sejak dini lewat jalur pendidikan. Apalagi sekolah menjadi jenjang peralihan dari keluarga ke masyarakat. Ketersediaan kurikulum pendidikan agama yang menekankan nilai-nilai luhur keagamaan sebagai software dalam berinteraksi membuat anak didik lebih siap menghadapi kehidupan yang plural.