"Belajarlah terus, karena bisa saja ilmu yang kita miliki sudah kadaluarsa atau bahkan salah. Belajarlah sampai akhir hayat."
Tampilkan postingan dengan label Menag. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menag. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Menag: Perlu Dihidupkan Lagi Budaya Mengaji Setelah Shalat Maghrib

REPUBLIKA.CO.ID,PALANGKARAYA--Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, budaya maghrib mengaji di kalangan masyarakat perlu dihidupkan kembali, sebab saat ini kebiasaan umat muslim tersebut sudah mengalami penurunan.

"Kebiasaan maghrib mengaji sudah mulai hilang di kalangan masyarakat, khususnya bagi para remaja. Kalau dulu biasanya orang tua selalu menyuruh anaknya membaca AlQuran usai melaksanakan ibadah maghrib," katanya di Palangka Raya, Sabtu.
Ia mengatakan, pihaknya sudah mencanangkan "Gerakan Maghrib Mengaji" atau disingkat "Gemar Mengaji", dengan melalukan sosialisasi kepada masyarakat untuk kembali melaksanakan budaya tersebut.

Menurutnya, melalui Gemar Mengaji setiap maghrib anak-anak diajak untuk mengaji dan menyimak Al Quran dan kandungannya. Langkah tersebut diyakini akan mampu menciptakan generasi yang penuh kasih sayang, hormat menghormati, berbudi pekerti tinggi sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan dalam Alquran.

Selasa, 29 Juni 2010

Madrasah pun Mesti Berstandar Internasional

REPUBLIKA.CO.ID,BANJARMASIN. Selama ini, madrasah jauh tertinggal dibandingkan pendidikan umum. Madrasah bahkan kerap dijadikan tempat pendidikan alternatif setelah sekolah umum. Di saat sekolah umum kini banyak yang berstandar internasional, madrasah nyaris tak terdengar kabarnya.

Tapi, lain ceritanya bagi masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Tanah Laut. Melalui wakilnya di DPD, mereka sedang memperjuangkan terciptanya madrasah berstandar internasional. Masyarakat akan memperjuangkan madrasah itu sesuai janji Kementerian Agama. ''Keberadaan madrasah bertaraf internasional (MBI) merupakan aspirasi pemerintah provinsi dan masyarkat Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya Kabupaten Tanah Laut,'' ujar anggota DPD Habib Hamid Abdullah di Banjarmasin, Rabu (30/6).

Bersama tiga rekannya di DPD yaitu Adhariani, Gusti Faried Hasan Aman, dan HM Sofwat Hadi, Hamid mengunjungi Kalsel selama reses untuk menyerap aspirasi masyarakat di sana. Menurutnya, keberadaan MBI diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertakwa serta memahami ilmu pengetahuan dan teknologi. ''Kami sudah menyurati Kementerian Agama untuk mempertanyakan realisasi pembangunan MBI di Bumi Tuntung Pandang, Tanah Laut. Namun hingga sekarang belum ada jawaban,'' sesalnya.

Kamis, 10 Juni 2010

Menag: Umat Islam Bermutu Indonesia Maju

Jakarta. Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, sebagai umat mayoritas di Indonesia, tidak bisa diragukan lagi bahwa umat Islam menempati posisi yang sangat penting bagi Indonesia. Bahkan sudah tidak terhitung berapa banyak ahli yang berpandangan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana kualitas umat Islam.
"Apabila kualitas umat Islam buruk Indonesia akan terpuruk, sebaliknya, apabila kualitas bermutu Indonesia akan maju," kata Menag saat membuka pameran potensi umat Islam di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (6/5). Pameran berlangsung terkait penyelenggaraan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-5.

Menag mengatakan, mat Islam Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan para ultrapreneur, dengan potensi kuantitatif sebagai mayoritas di Indonesia. Mereka akan terwujud apabila persekutuan strategis tercetus di kalangan para entrepreneur dengan komitmen penegakan ekonomi syari`ah yang dilandasi oleh pertumbuhan, kontinuitas, dan keberkahan, maka dampaknya akan luas sekali, serta mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif secara nasional.

Tanpa menutup kemungkinan persekutuan strategis, outsourcing strategic dan benchmarking dengan entrepreneur dari kalangan non-muslim, para ultrapreneur tersebut akan berperan luas dalam pemulihan ekonomi Indonesia, bahkan membawa kegairahan yang kondusif di wilayah regional maupun internasional. Selain itu, dengan landasan tiga fokus utama ekonomi syari`ah yang diungkapkan sebelumnya, maka aktivitas tersebut Insya Alloh akan berfungsi pula sebagai dakwah bil-lisan.

Pengin cari artikel lainnya...?!?