"Belajarlah terus, karena bisa saja ilmu yang kita miliki sudah kadaluarsa atau bahkan salah. Belajarlah sampai akhir hayat."
Tampilkan postingan dengan label Puasa Bulan Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa Bulan Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

Magnet Ramadhan > Fakta Ringannya Membaca Quran Dimana-mana

Cerita dari inspirator Bayu Gawtama ini begitu menggugah. Fakta bahwa Ramadhan menjadi magnet bagi siapapun, profesi apapun, untuk tilawah (membaca Quran) menghiasi bibir dan hati dengan ayat-ayat Nya.

Berikut Ceritanya:

Segera saya mencari pom bensin ketika kedap-kedip di dashboard seolah terus memaksa minta diisi. Pom bensin pun terlihat, “isi full mas…” saya diam, si mas petugas pom bensin hanya diam duduk membelakangi. Apa mungkin dia mengantuk di tengah terik begini, ketika sepi tidak ada pelanggan. “Mas, isi penuh ya…” kali ini volume suara saya perbesar sedikit, dan berhasil. “Eh maaf, pak…” dia meletakkan sesuatu dari tangannya di atas kotak merah tempat penyimpanan uang. Akhirnya saya tahu apa yang membuat ia tak mendengar sapaan saya yang pertama, dan akhirnya saya seperti merasa bersalah dengan tekanan yang lebih tinggi pada sapaan yang kedua. Karena ternyata ia tak sedang tidur membelakangi saya, namun tengah khusyuk membaca Alqur’an.

Yang baru saja diletakannya itu alquran kecil ukuran saku, hati-hati sekali ia menyimpannya masih dalam keadaan terbuka namun posisinya tertelungkup. Mungkin ia menandakan bacaan yang terbaru untuk dilanjutkan kembali nanti setelah pelanggannya pergi. Sambil ia memasukkan selang pompa, saya masih sempat melihat gerakan bibirnya masih membaca lafaz tersisa, yang mungkin belum sempat ia selesaikan karena kedatangan saya. Saya segera membayar sejumlah uang untuk sejumlah bensin yang telah ia berikan, terdengar kata “Alhamdulillah…” darinya.

Renungan Ramadhan : Al Qur’an Dulu! Baru yang Lain (Ust. Rahmat Abdullah)

Membaca tausiyah dari syaikhut tarbiyah almarhum K.H. Rahmat Abdullah begitu menggetarkan jiwa. Dengan bahasa yang dalam dan kata-kata yang kuat mampu meluapkan emosi dan semangat para pembacanya. Yakinlah! Berikut salah satu kutipan tausiyah Ustadz Rahmat Abdullah:

"Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Kamis, 04 Agustus 2011

Efek Puasa Terhadap Tubuh

Sumber: Republika

Selama berpuasa tubuh manusia menghasilkan energi dengan membakar sumber daya yang disimpan oleh tubuh. Simpanan ini terdiri dari lemak, karbohidrat dan gula sehingga menghasilkan energi.

Hati adalah organ yang paling berperan dalam proses ini. Hati mengubah lemak menjadi zat kimia yang disebut Keton tubuh berupa tiga senyawa larut dalam air yang kemudian digunakan sebagai sumber energi.

Justru tubuh mengambil banyak manfaat dari puasa. Detoksifikasi adalah salah satu manfaat terpenting dari puasa. Detoksifikasi terjadi saat usus besar, hati, ginjal, paru-paru, kelenjar getah bening dan kulit menghilangkan atau menetralkan racun.

Minggu, 22 Agustus 2010

Ada yang Salah Jika Etos Kerja Malah Menurun Selama Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA. Pada kebanyakan orang, Bulan puasa Ramadhan dijadikan bulan untuk lemas, mengantuk dan tidak bergairah. Selain itu, bagi orang yang bekerja, terkadang ritual ibadah puasa menghalangi mereka untuk lebih meningkatkan gairah dan etos kerja.

Padahal sebaliknya, kata mubaligh ibu kota Ustadz Muchsinin Fauzi Lc, bulan Ramadhan justru sebagai momen yang sangat tepat untuk meningkatkan vitalitas dan etos kerja.

Muchsinin menjelaskan, betapa istimewanya bulan suci ini. Di dalam bulan Ramadhan, ada dua hal besar yang pernah terjadi sepanjang sejarah Islam. Pertama, menangnya umat Muslim dalam perang Badar. Kedua, peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). "Hal-hal penting terjadi di bulan Ramadhan. Mereka mampu melakukan hal besar dalam kondisi berpuasa. Kita pun harusnya demikian. Jadikan Ramadhan sebagai big performance umat Islam," ujarnya, Kamis (19/8) dalam tausiyah dalam acara buka bersama awak Newsroom Republika dan Republika Online di Jakarta.

Big performance, menurut Muchsinin, adalah perwujudan umat Islam dalam bulan Ramadhan yang tercermin dengan semangat baru dan siap meningkatkan kualitas kerja. Karena, seperti tadi yang telah diurai, dalam bulan Ramadhan telah terjadi serangkaian peristiwa berat dan besar, namun dapat dicapai. "Jadikan peristiwa itu sebagai tonggak untuk memotivasi diri," ujarnya.

Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan yang istimewa dan penuh berkah untuk kaum muslimin. Banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadhan. Berikut ini beberapa peristiwa yang terjadi pada bulan yang mulia ini:

1. Rasulullah menerima wahyu pertama. Ketika Rasululah SAW mendekati umur 40 tahun beliau selalu berpikir dan merenung serta berkeinginan kuat untuk mengasingkan diri (uzlah), akhirnya dengan mempersiapkan bekal makanan dan minuman beliau menuju gua Hira yang terdapat pada gunung Rahmah sebagai tempat beruzlah yang berjarak dua mil dari kota Mekkah. Uzlah ini dilakukan tiga tahun sebelum masa kerasulan selama satu bulan Ramadhan penuh. Tatkala datang Ramadhan pada tahun ketiga dari masa uzlah, bertepatan tanggal 10 Agustus 610 M dan usia beliau genap berumur 40 tahun Qamariyah lebih 6 bulan 21 hari turun kepada beliau Malaikat Jibril mewahyukan Surah Al-‘Alaq yang merupakan surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah.

2. Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara haq dan batil”. (QS. Al Baqarah [2]: 185). Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah SWT menyanjung bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana Al-Qur’an diturunkan di dalamnya.

3. Kitab-kitab suci diturunkan pada bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, "Shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat turun pada hari keenam bulan Ramadhan dan Injil pada hari ketiga belas dari Ramadhan.” (HR. Ahmad)

Kamis, 19 Agustus 2010

Maaf untuk Perbaikan Diri

Hadirnya bulan Ramadan sudah menjadi saat yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya karena kemuliaan yang lebih tinggi daripada bulan lainnya, namun juga karena menjadi sarana bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Mengapa memperbaiki diri? Karena pada bulan inilah akan terjadi peluang untuk mendapatkan ampunan terhadap semua dosa dan sekaligus mengubah perilaku maksiat ke perilaku saleh.

Kebiasaan yang berkembang di masyarakat Indonesia dalam menyambut Ramadan sesungguhnya sama dengan masyarakat muslim di negara lain. Akan tetapi kita memiliki budaya yang khas yang tidak ditemukan di negara lain, yaitu meminta maaf dan memberi maaf pada saat Idul Fitri. Kebiasaan ini sering kita namakan “halal bihalal” atau Lebaran. Meski tidak ditemukan tuntunan syariat, kebiasaan ini secara nyata mampu menumbuhkan rasa dekat sebagai satu keluarga besar di masyarakat muslim. Kerelaan umat yang dengan berjuang keras dan bersusah-payah menempuh perjalanan berat dan jauh untuk menyempatkan diri pulang ke kampung halaman (mudik), menunjukkan keinginan untuk tetap dekat di dalam keluarga besarnya.

Fenomena yang berkembang sekarang bahkan sudah dimulai saat Ramadan menjelang, di mana umat beramai-ramai memohon maaf kepada teman dan keluarganya. Hal ini biasanya dengan iringan doa semoga mendukung ibadah selama Ramadan sehingga menjadi penuh berkah. Mengingat kenyataan ini, maka menarik untuk diungkap bagaimana proses maaf yang terjadi sehingga mampu memunculkan manfaat psikologisnya.

Selasa, 17 Agustus 2010

Tiga Hal yang Harus Diwaspadai Hati

REPUBLIKA.CO.ID. Di bulan nan suci ini, sudah sepatutnya muslim menyambutnya dengan penuh suka cita dan menjauhkan diri dari kesedihan. Kesedihan, memang hadir dalam kehidupan manusia. Namun, tak perlu ada kesedihan yang berlebihan. Sebab orang beriman, sepenuhnya sadar bahwa sesuatu yang ia miliki, masalah yang ia hadapi dari dan akan kembali kepada Allah.
Firman Allah Ta’ala: ‘’Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqoroh: 155). Selain itu, orang yang optimis selalu mengucapkan kalimah istirjaa (pernyataan kembali pada Allah) ‘’(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘’Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun’’ (Al-Baqoroh: 156).

Dalam kitab Nashooihul ‘Ibad karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, disebutkan hadits mengenai tiga hal yang harus diwaspadai. Hal-hal yang harus diwaspadai tersebut ialah:

Pertama, hindari kesedihan di pagi hari dan mengeluhkan kesulitan hidup kepada orang lain. Mulailah menempuh pagi hari kita dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Bersyukur karena Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Jika mengawali pagi hari dengan kesedihan, maka hidup yang dijalani pun akan terasa berat dan sulit.

Kamis, 12 Agustus 2010

PUASA DAN KECERDASAN SPIRITUAL DAN EMOSIONAL

Allah swt menganugerahi setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat serta memperindah hal itu dalam dirinya (QS. [3]: 14), agar menjadi pendorong utama “memelihara diri” dan “memelihara jenis”. Dari keduanya lahir aneka dorongan, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, keinginan untuk memiliki, dan hasrat untuk menonjol. Semuanya berhubungan erat dengan dorongan (fithrah) memelihara diri, sedangkan dorongan seksual berkaitan dengan upaya manusia memelihara jenisnya.

Setan seringkali juga memperindah hal-hal tersebut pada diri manusia, guna melengahkan manusia dari tugas kekhalifaan. Seks, jika diperindah setan, maka ia dijadikan tujuan. Cara dan dengan siapapun, tidak lagi diindahkan. Kecintaan kepada anak, jika diperindah setan maka subyektivitas akan muncul. Bahkan, atas nama cinta, orang tua membela anaknya walau salah. Harta jika dicintakan setan, maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dia akan menumpuk dan menumpuk serta melupakan fungsi sosial dari harta itu.

Dengan berpuasa kita menyadari hal tersebut dan ini pada gilirannya menghiasi diri kita dengan kecerdasan spiritual dan emosional.

Kecerdasan spiritual melahirkan iman serta kepekaan yang mendalam. Fungsinya mencakup hal-hal yang bersifat supranatural dan religius. Inilah yang menegaskan wujud Tuhan, melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup, serta memperhalus budi pekerti, dan dia juga yang melahirkan mata ketiga atau indra keenam bagi manusia.

Selasa, 10 Agustus 2010

Ramadan dan Rutinitas Latah

Bulan Ramadan sudah di depan mata. Dan beberapa hari lagi umat muslim di Indonesia akan menjalani puasa Ramadan. Puasa yang merupakan sebuah kewajiban dan hanya bisa ditinggalkan jika ada uzur tertentu. Dan jika meninggalkannya pun harus mengganti sesuai dengan aturannya.

Namun saya tak akan membahas tentang nash-nash yang berkaitan dengan apa dan bagaimana puasa Ramadan. Namun saya lebih tertarik menggarisbawahi bagaimana perilaku dan tingkah laku umat muslim dalam menghadapinya, yang cenderung memandang puasa sebagi rutinitas belaka. Rutinitas latah layaknya memperingati hari-hari besar lainnya. Setelah selesai maka tak akan berbekas apa pun.

Masjid-masjid yang biasanya sepi kembali ramai. Jika di luar bulan Ramadan, jemaah yang ikut salat berjemaah hanya sekitar satu hingga dua shaf (baris) saja, maka di bulan puasa menjadi berlipat sampai puluhan shaf. Bahkan tak jarang terjadi overload kapasitas masjid. Alhasil, takmir masjid sampai harus memasang tenda, agar semua jemaah bisa ikut salat tarawih berjemaah.

Pengin cari artikel lainnya...?!?