"Belajarlah terus, karena bisa saja ilmu yang kita miliki sudah kadaluarsa atau bahkan salah. Belajarlah sampai akhir hayat."
Tampilkan postingan dengan label Info TPQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info TPQ. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

SOLO MENDONGENG II ”Sillaturahmi Akbar 20.000 santri TPQ serentak 7 kota Se Solo Raya"

Selasa 25 Desember 2012  di Solo Raya telah berkumpul generasi anak bangsa, 20.000 santri TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) mengadakan Sillaturahmi Akbar 20.000 santri TPQ serentak 7 kota di Solo Raya, adapaun 7 kota itu  meliputi Surakarta, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Sukoharjo. Acara ini adalah adalah yang kedua kalinya diadakan oleh Lembaga Koordinasi Gerakan Taman Pendidikan Al-Quran (LKG TPQ) Solo Raya dan Komunitas – BADKO TPQ , adapun yang pertama kali diadakan pada 25 Desember 2011 tahun lalu yang jumlah santri TPQ ada 8000 bertempat di Auditorim UNS Surakarta. Untuk tahun ini peserta meningkat 2 kali lipat lebih, dari 8000 santri menjadi 20.000 santri TPQ.

Photobucket

Photobucket
Gendung MTA Mangkunegaran bersama  3000 santri TPQ / solo.

Menyelamatkan Aqidah 20.000 Santri se-Solo Raya

Selasa 25 Desember 2012  di Solo Raya telah berkumpul generasi anak bangsa, 20.000 santri TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) mengadakan Sillaturahmi Akbar 20.000 santri TPQ serentak 7 kota di Solo Raya, adapaun 7 kota itu  meliputi Surakarta, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Sukoharjo. Acara ini adalah adalah yang kedua kalinya diadakan oleh Lembaga Koordinasi Gerakan Taman Pendidikan Al-Quran (LKG TPQ) Solo Raya dan Komunitas – BADKO TPQ , adapun yang pertama kali diadakan pada 25 Desember 2011 tahun lalu yang jumlah santri TPQ ada 8000 bertempat di Auditorim UNS Surakarta. Untuk tahun ini peserta meningkat 2 kali lipat lebih, dari 8000 santri menjadi 20.000 santri TPQ.

Untuk sillaturahmi akbar santri TPQ kita beri nama SOLO MENDONGENG dengan tema acara INDAHNYA KEBERSAMAAN. Konsep acara meliputi sillaturahmi, mendengarkan dongeng / cerita dari master dongeng (Persaudaraan Pendongeng Islam Indonesia) dilanjutkan dengan pembagian door prize Sepeda, HP, meja belajar, dll.  dan ditutup dengan penggalangan dana untuk Gaza, santri TPQ peduli Gaza dan  Alhamdulillah telah terkumpul  Rp 5.798.400.

Kamis, 04 Agustus 2011

Badko TPQ Grogol adakan Pawai Syi’ar Ramadhan


Badan Koordinasi Taman Pendidikan Al Qur’an (Badko TPQ) Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo akan mengadakan kegiatan ”Pawai Syi’ar Ramadhan 1432 Hijriyah Bersama TPQ se-Kecamatan Grogol”. Kegiatan yang akan diikuti oleh ribuan santriwan-santriwati dan ustadz-ustadzah TPQ se-kecamatan Grogol tersebut akan dimulai (start) dari lapangan ex. Atrium Solo Baru dan finish di Masjid An Nur Madegondo, Ahad (31/7) besok. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada kesempatan tersebut, di antaranya: Pawai Syi’ar Islam, Pembagian Jadwal Imsakiyah, Posterisasi, dan diakhiri dengan Tabligh Akbar dengan menghadirkan Ustadz M. Natsir dari Keong Mas Surakarta.

Kegiatan ini selain untuk memeriahkan dan menyambut datangnya bulan Ramadhan 1432 Hijriyah, serta mengajak masyarakat umum untuk mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Mudah-mudahan kegiatan ini mampu menginspirasi dan memotivasi santriwan-santriwati dan ustadz-ustadzah TPQ pada khususnya dan masyarakat pada umumnya agar dapat menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah (bulan pembinaan dan perbaikan diri). Hal ini sangat penting, karena sebentar lagi umat islam akan memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana semangat untuk beribadah cenderung meningkat di banding bulan-bulan selainnya.


Sumber: Solopos

Badko TPQ Sukoharjo adakan Training ESQ


Badan Koordinasi Taman Pendidikan Al Qur’an (Badko TPQ) Kabupaten Sukoharjo adakan kegiatan ”Training Emosional Spiritual Quetiont (ESQ)” di RM. Embun Pagi Sukoharjo, Ahad (24/7) kemarin. Kegiatan tersebut menghadirkan B.S. Wibowo, SKM, MARS, CPHR dari LMT TRUSTCO Jakarta. Kegiatan yang diikuti 80 peserta perwakilan Badko TPQ se-Kabupaten Sukoharjo dan Pengurus Badko TPQ Kabupaten Sukoharjo ini merupakan sebuah kegiatan alternatif yang dilaksanakan atas kerjasama dengan Seksi Kapontren Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukoharjo.

Dalam sambuatannya, Ketua Badko TPQ Kabupaten Sukoharjo, Hasman Budiadi, SE.MM. menyampaikan bahwa kegiatan ini, harapannya dapat menyiapkan seluruh Pengurus Badko baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat kabupaten untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan yang mulia. Dalam materinya, Trainer B.S. Wibowo, SKM, MARS, CPHR menyampaikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang muslim harus dilandasi dengan keikhlasan. Keikhlasan inilah yang akan sangat mempengaruhi konsistensi seseorang dalam setiap aktivitasnya. Selain itu, dalam mendidik santriwan-santriwati TPQ dengan Al Qur’an, harus dilaksanakan dengan cerdas, tuntas, dan berkualitas. Sehingga ke depannya, generasi penerus bangsa ini akan mampu memimpin dan membangun bangsa Indonesia dengan integritas kejujuran yang tinggi.


Sumber: Solopos

Senin, 13 Juni 2011

Memakmurkan Masjid dengan Paradigma Memberi

Minta-minta lagi, itulah kenyataan yang sering kita lihat di masjid kita hari ini, khususnya dalam persoalan dana. Minta-minta dana pada jama’ah seakan-akan telah menjadi budaya dan kultur masjid kita hari ini, khususnya lagi pengurus masjid yang sudah tak lagi produktif dan tidak memiliki paradigma (cara padangan) memakmurkan masjid dengan paradigma memberi.

Mungkin dalam pandangan banyak pengurus masjid kita hari ini, meminta dana pada jama’ah adalah yang lumrah untuk dilakukan sebagaimana aktivitas kampung pada umumnya, khususnya di tingkat RT (Rukun Tetangga), dengan berbagai iurannya. Mungkin mereka beranggapan pula, jika tidak meminta jama’ah, tak akan ada dana, sehingga kegiatan masjid tak bisa berjalan dengan baik.

Pembaca sekalian, maka wajar jika hampir bisa dipastikan setiap akan ada kegiatan masjid, para takmir/pengurus masjid kita membagi struk permohonan dana. Mau memberi subsidi tenaga pengajar TPA/TPQ minta-minta dana jama’ah, mau mengadakan pengajian minta-minta dana ke rumah-rumah jama’ah, bahkan mau membangun/renovasi masjid pun, tak malu-malu meminta-minta jama’ah dari rumah ke rumah.

Belajar “Memuliakan” Tenaga Pengajar TPA/TPQ (Pengajar Al Qur’an)

Tema tersebut saya angkat, berawal dari perjumpaanku dengan salah seorang pengajar TPA/TPQ disalah satu masjid. Ia menceritakan bagaimana beratnya tanggungjawab sebagai pengelola dan sekaligus pengajar TPA/TPQ selama ini, hampir waktu sorenya dihabiskan untuk mendampingi anak-anak belajar Al Qur’an. Padahal jika dibandingkan pemuda seusianya, banyak para pemuda yang menghabiskan waktu sorenya untuk les pelajaran sekolah, ada yang berolah raga, ada yang bersendau gurau dengan teman lainnya dll, tapi dirinya rela dan ikhlas mendampingi, membimbing dan mengajar di TPA/TPQ. Walaupun ilmu yang dimilikinya terbatas, tapi dirinya tetap bersemangat dan terus berusaha semampunya mengemban amanah dengan sebaik-baiknya, demi adik- adik kampungnya agar bisa membaca Al Qur’an dengan baik.

Ditengah asiknya dirinya bercerita, saya sesekali bertanya padanya untuk lebih menjelaskannya lagi bagaimana suka dan dukanya menjadi pengajar TPA/TPQ selama ini, .Saat itu saya bertanya padanya, apakah selama ini tidak ada pertemuan rutin dengan pengurus masjid setempat (sebagai bentuk dukungan) dan dana operasional dari pengurus masjid ? Ia memberikan jawaban yang sangat mengherankan saya, jangankan pertemuan mas, melihat langsung TPA/TPQ saja ngak pernah dilakukannya. Sedangkan untuk dana operasional TPA/TPQ saja kita diharuskan membuat proposal terlebih dulu, padahal dana yang kita minta hanya cuma Rp. 50 ribu saja. Mendengar jawaban tersebut, saya sangat heran dan tak hampir pikir dengan perjalanan TPA/TPQ di masjid tersebut. Dalam hati saya hanya bisa prihatin, kok zaman sekarang masih ada saja pengurus masjid yang tidak peduli dengan TPA/TPQ, khususnya lagi pengajar TPA/TPQ (seiring dengan perjalanan waktu, pada akhirnya TPA/TPQ di masjid tersebut mati karena tak terurus dengan baik).

Alhamdulillah... Insentif Guru Mengaji dan Imam Masjid Naik

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR - Insentif guru mengaji dan imam masjid di Makassar akan naik menjadi Rp 3 miliar dari insentif sebelumnya yang hanya Rp 1,2 miliar per tahun. "Insentif ini mengalami kenaikan 150 persen menyusul adanya rencana Badan Legislasi DPRD Makassar yang menindak lanjuti Ranperda Baca Tulis Al Quran," ujar anggota DPRD Makassar Muzakkir Ali di Makassar, Kamis (9/6).

Ia menyatakan, dalam APBD Makassar insentif guru mengaji dan imam masjid dialokasikan sebesar Rp 1,2 miliar per tahunnya. Angka Rp 700 juta di antaranya dimanfaatkan untuk insentif guru mengaji seperti Tempat Pendidikan Al Quran (TPA) dan selebihnya untuk insentif imam masjid.

Pemenuhan insentif yang diatur dalam Rencana Peraturan Daerah Baca Tulis Al Quran dimaksudkan untuk mendorong guru mengaji dan imam masjid agar bisa bekerja lebih efektif dalam membina, mendidik dan mengajarkan pendidikan tentang Al Quran. "Sengaja kami meningkatkan insentif para guru mengaji dan imam masjid ini hanya semata-mata agar mereka bisa lebih efektif dalam memberikan pendidikan agama kepada anak didiknya," katanya.

Selasa, 05 April 2011

Segera Hadir! PPPA Daarul di Quran Sukoharjo

Pondok Pesantren Penghafal Al-Quran (PPPA) Daarul Quran Sukoharjo segera diresmikan. Peresmian itu diawali dengan kegiatan soft launching sekretariat sementara PPPA Daarul Quran Sukoharjo di Rumah Dinas (Rumdin) Wakil Bupati Sukoharjo, Jumat (25/3/2011) siang.

Acara itu diisi dengan khataman Al Quaran. Dalam soft launching tersebut, Wakil Bupati Sukoharjo, Haryanto yang membacakan sambutan dari Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mengatakan kemunculan PPPA Daarul Quran merupakan sesuatu hal yang positif dan perlu didukung. Rencananya pondok pesantren itu akan menempati bekas bangunan SDN 4 Sukoharjo.

“Kami sangat menyambut baik lahirnya PPPA Daarul Quran. Pondok ini merekrut kaum dhuafa dan anak yatim piatu. Rencananya PPPA akan diresmikan Ust Yusuf Mansyur dalam waktu dekat,”
tukas Haryanto dalam sambutannya.


Sumber: Solopos

Minggu, 12 Desember 2010

Manajemen TPA/TPQ, manajemen “hangat-hangat tai ayam”

Cukup lama kita tidak membahas tentang problematika TPA/TPQ saat ini, setelah sekian edisi kita menampilkan rubrik tentang hikmah dari sedekah, maka pada rubrik kali ini, sengaja saya angkat kembali tema yang terkait dengan seluk beluk TPA/TPQ.

Tema yang saya angkat kali ini yakni manajemen TPA/TPQ, manajemen “hangat-hangat tai ayam”. Jika kita melihat pengelolaan TPA/TPQ di kebanyakkan masjid kita saat ini, tema ini terasa sangat cocok dengan kondisi TPA/TPQ kita, yang semakin hari, semakin memprihatikan saja. Perjalanan sekian lama mengelola TPA/TPQ, ternyata amat jauh dari kesan maju, tidak ada perkembangan yang berarti, bahkan kecenderungannya semakin mundur saja, hal ini amat terlihat bagaimana dengan pengurus masjid yang bersemangat dulu, ternyata semangatnya semakin pudar saja, ustadz/ah TPA/TPQ yang digadang-gadang mampu memberikan pelajaran Al Qur’an, akhirnya pergi entah kemana. Ya, inilah wajah TPA/TPQ kita saat ini, wajah pengelolaan TPA/TPQ dengan manajemen “hangat-hangat tai ayam”, semangat hanya diawal saja, setelah itu tak tahu harus bagaimana.

Manajemen “Hangat-hangat tai ayam” ini seringkali menghinggapi pengurus masjid kita saat ini dalam mengelola TPA/TPQ. Di awal-awalnya sih inginnya TPA/TPQ nya baik, punya prestasi, bahkan kalau bisa juara ditingkat kota madya atau jika perlu juara ditingkat propensi sekalipun. Kemudian upaya dan semangat awalnya pun tak main-main, berbagai usaha dilakukan, baik itu pertemuan pengurus masjid untuk membahas tpa/tpq secara intensif, mencari ustadz/ah yang handal dan berkemampuan. Bahkan penggalanagan dana dari jama’ah masjid pun dimobilisasi untuk mendukung TPA/TPQ, tidak cukup hanya itu seluruh santri/wati TPA/TPQ difasilitasi dengan berbagai sarana seragam dan tas yang baru, sebagai upaya untuk menarik simpati anak ikut TPA/TPQ.

Selasa, 07 September 2010

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H

MATA kadang salah melihat...
MULUT kadang salah mengucap...
HATI kadang salah menduga...
Dengan niat tulus suci dengan ikhlas...





Segenap Keluarga Besar Badko TPQ
Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo
Mengucapkan :

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
Taqabalallahu minnaa wa minkum, shiyamana wa shiyamakum"

Senin, 05 Juli 2010

1.896 Peserta Ramaikan FASI IV Jateng

Boyolali, CyberNews. Sebanyak 1.896 peserta turut ambil bagian dalam Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) IV Tingkat Jateng yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, 3-5 Juli. Ratusan peserta yang berasal dari 33 Kabupaten/Kota se Jateng ini akan memperebutkan sejumlah tropy yang disebar di 36 cabang lomba.

Dalam sambutannya pada acara pembukaan, Ketua Panitia Hj Zainatun Ali Mufiz mengatakan even yang diselenggarakan tiga tahunan kali ini mengambil tema Selamatkan Moral Anak Bangsa (SEMAI).

Menurutnya, acara tersebut diselenggarakan dengan tujuan menyiapkan kader bangsa yang kuat iman dan taqwanya serta meningkatkan kemampuan gerakan membaca, menilis, memahami, dan mengamalkan Al-Quran bagi anak-anak.

Ribuan anak di Jateng ikuti FASI IV

Boyolali (Espos). Sebanyak 1.896 anak dari 33 Kabupaten/Kota di Jateng mengikuti Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) IV tingkat Jateng di Asrama Haji Donohudan, Sabtu-Senin (3-5/7).

Sekretaris Panitia kegiatan Fatquri Buseri mengatakan festival itu mempertandingkan 36 cabang lomba untuk tingkat taman kanak-kanak alquran (TKQ), taman pendidikan alquran (TPQ) dan taklimul quran lil aulat (TQA).

“Beberapa lomba itu antara lain tartil, tilawah, kaligrafi azan, hafalan juz 30, mewarnai, menggambar dan beberapa lomba lainnya,”
ujarnya kepada Espos di sela-sela kegiatan, kemarin.

FASI Jateng Lombakan 36 Cabang

SEMARANG. Sebanyak 36 cabang bidang keislaman, akan dipertandingkan dalam Festival Anak Saleh (FASI) ke-4 Tingkat Jateng di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, 3-5 Juli mendatang. Festival tiga tahunan itu akan memperebutkan piala bergilir dari Gubernur yang kini dipegang oleh Klaten.

Ada 2.170 anak dari Taman Kanak-Kanak Alquran (TKQ), Taman Pendidikan Alquran (TPQ), dan Taklimul Quran Lilaulad (TQA) se-Jateng yang akan dilibatkan. Beberapa cabang yang dilombakan diantaranya, tartil, tilawah, hafalan juz 30, azan dan iqamat, shalat jamaah, kaligrafi, cerita islami, menggambar dan mewarnai, serta nasyid. Selain itu, dilombakan pula ikrar dan puitisasi Alquran, cerdas cermat Alquran, pidato bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Namun, seluruh kontingen dari 35 kabupaten/kota se-Jateng tidak diwajibkan ikut semua cabang yang dilombakan. Para juara dari masing-masing cabang, nantinya akan dikirim ke FASI tingkat pusat yang rencanya diadakan di Palembang tahun 2011 mendatang.

Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan Agama

Di tengah derasnya arus modernisasi yang melanda Indonesia berakibat terkikisnya nilai-nilai agama di kalangan masyarakat. Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat seharusnya mempunyai tanggung jawab sebagai benteng terakhir untuk menaggulangi krisis tersebut.

Proses modernisasi yang terjadi dalam masyarakat cenderung saya lihat kurang memperhatikan pendidikan agama di lingkungan rumah tangga. Dengan kemajuan pendidikan yang diperoleh perempuan, tanggungjawab ekonomi keluarga sekarang ini bukan lagi dipikul oleh laki-laki tetapi juga perempuan.

Dengan kesibukan kaum ibu bekerja maka pendidikan agama bagi anaknya kurang dikontrol, padahal tidak semua aspek pendidikan agama bisa diberikan sekolah yang hanya beberapa jam saja.

Rabu, 30 Juni 2010

Mendidik Islami Ala Luqman Al-Hakim

Dakwatuna.Com. “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar ….. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Luqman: 13-19)

Surat Luqman secara umum, terutama ayat 13-19 difahami sebagai surat yang harus dibaca saat prosesi aqiqah atau kesyukuran atas kelahiran seorang anak, dengan harapan bahwa sang ayah nantinya dapat meneladani tokoh Luqman yang diabadikan wasiatnya dan sang anak juga dapat mengikuti petuah dan nasehat seperti halnya anak Luqman. Tentu pemahaman ini dapat diterima, mengingat secara tekstual ayat-ayat ini memang berbicara secara khusus tentang pesan Luqman dalam konteks mendidik anak sesuai dengan pesan Al-Qur’an. Apalagi pesan Luqman dalam surat ini sebenarnya adalah pesan Allah yang dibahasakan melalui lisan Luqman Al-Hakim sehingga sifatnya mutlak dan mengikat; pesan Luqman dalam bentuk perintah berarti perintah Allah, demikian juga nasehatnya dalam bentuk larangan pada masa yang sama adalah juga larangan Allah yang harus dihindari.

Luqman yang dimaksud dalam ayat-ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ia adalah anak dari seorang bapak yang Tsaaran. Pengabadian kisah Luqman memang berbeda dengan pengabdian tokoh lain yang lebih komprehensif. Pengabadian Luqman hanya berkisar seputar nasehat dan petuahnya yang sangat layak dijadikan acuan dalam mendidik anak secara Islami.

Tentu masih banyak lagi cara Islami dalam mendidik anak berdasarkan ayat-ayat atau hadits Rasulullah saw yang lain. Namun paling tidak, pesan Luqman ini bukan sekedar pesan biasa umumnya seorang bapak kepada anaknya, namun merupakan pesan yang penuh dengan sentuhan kasih sayang dan sarat dengan muatan ideologis serta tersusun berdasarkan skala prioritas dari pesan agar mengesakan Allah dan tidak menmpersekutukannya sampai pada pesan untuk bersikap tawadu’ dan santun yang tercermin dalam cara berjalan dan berbicara. Kedua jenis pesan dan nasehat tersebut ternyata tidak keluar dari dua prinsip utama dalam ajaran Islam yaitu ajaran tentang akidah dan akhlak.

Kamis, 10 Juni 2010

Kakanwil : FASI IV 2010 Jateng untuk FASI Nasional 2011

Semarang, (JSI). FASI IV 2010 Jateng Insya Allah di gelar pada ahir Juli 2010 di Masjid Agung Jateng dan di awali dengan temu teknis oleh seluruh BADKO TPQ se Jateng di Asrama Haji Transit Manyaran Semarang besok tanggal 24 s/d 25 April 2010 kata Panitia FASI IV dalam Audiensi dengan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah.

Kakanwil mengharaapkan FASI IV 2010 ini selain ajang perstasi dan menyonsong FASI Nasional 2011 nanti juga untuk mengetahui sejauh mana pendidikan Al-Qur'an di TKQ, TPQ, dan TQA yang ada di Propinsi Jawa Tengah ini diperlukan adanya event untuk mengevaluasi yang diujicobakan melalui Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI).

Dampak positif dari diadakannya FASI adalah tumbuhnya semangat berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot), serta munculnya kreativitas ustadz/ustadzah dan para santri di dalam mengaktualisasikan kemampuan bakat dan minatnya, sehingga akan lahir peserta didik yang berkualitas sebagai generasi penerus yang Qur-ani.


Sumber: Depag Jateng Online

Rabu, 28 April 2010

Ustadz sebagai Contoh Akhlak Santri

Ustadz-ustadzah sebagai seorang pengajar di TPA sangat dimungkinkan sebagai contoh bagi santri. Santri yang notabene masih kecil hanya bisa meniru orang-orang di sekelilingnya karena mereka memiliki sifat suka meniru. Lalu bagaimana sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh ustadz-ustadzah? Jawabannya mereka haruslah menjadi teladan yang baik bagi para santri. Tentunya dengan bersikap yang baik di hadapan mereka. Karena sikap yang ditunjukkan lebih mudah diterima daripada kata-kata.

Didiklah dengan keteladanan. Dan keteladan yang paling utama sebagai contoh bagi ustadz-ustadzah adalah Rasulullah SAW. Dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 21 disebutkan ‘sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan banyak mengingat Allah’. Sebagaimana dalam sebuah cerita ketika Ibnu Aisyiah ditanya bagaiman akhlak Rasul. Ibnu Aisyiah menjawab akhlak Rasul adalah Al Quran.

Menjadi Pemuda yang Hatinya Terkait Masjid

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah: 114)

Para sahabat atau orang-orang terdahulu adalah orang yang memiliki perjuangan yang teguh. Mereka senantiasa menjaga akidah Islamnya walaupun mereka ditimpa kesengsaraan, cobaan dan permusuhan dari orang-orang kafir. Mereka yakin bahwa pertolongan Allah telah dekat dan surga menanti mereka dan mereka cinta syahid.

TEKNIK BERCERITA UNTUK ANAK USIA DINI

Kak Bimo Master Dongeng Indonesia

Kata Pengantar

Ada suatu ungkapan yang berbunyi ”Seorang Guru yang tidak bisa bercerita, ibarat orang yang hidup tanpa kepala”. Betapa tidak, bagi para pengasuh anak-anak (guru, tutor) keahian bercerita merupakan salah satu kemampuan yang wajib dikuasai. Melalui metode bercerita inilah para pengasuh mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif, dan anak-anak menerimanya dengan senang hati.

Pada saat ini begitu banyak cerita yang tersebar, namun masih jarang tulisan dari para praktisi ahli cerita , yang mampu mengarahkan secara khusus untuk ditujukan kepada anak-anak usia dini, sehingga penceritaan yang disampaikan kurang mengena. Apalagi model cerita yang secara khusus didasarkan pada material kurikulum pengajaran di TPA/KB/RA/BA/TK yang berlaku. Padahal panduan praktis semacam ini sangat dibutuhkan oleh tenaga pendidik di seluruh Nusantara. Pada umumnya mereka masih terbatas pengetahuannya tentang metode bercerita.

Tulisan ini kami susun dengan maksud agar menjadi salah satu bahan pengayaan ketrampilan mendidik anak, bagi para pendidik anak usia dini dalam kegiatan kepengasuhan yang mereka lakukan.

Pengin cari artikel lainnya...?!?